
Monty Tiwa Senang Membuat Orang Ketawa

Monty Tiwa bisa dikatakan salah satu filmmaker dengan talenta di berbagai bidang. Selain dikenal sebagai penulis skenario film-film komedi, ia juga suka bertindak sebagai sutradara, editor bahkan musisi.
Namun dari keempat profesi tersebut, menjadi seorang penulis skenario merupakan kenikmatan terbesar baginya. Pembesut film Barbi3 berani mengatakan bahwa ia sangat tidak nyaman untuk menjadi seorang sutradara. Bahkan ia sedang berpikir untuk menekuni dunia musik, menjadi seorang DJ!
Dalam kesempatan wawancara dengan Cinema 21, pria tambun kelahiran Jakarta 32 tahun silam ini juga membeberkan kenapa akhirnya ia berpisah dengan Rudy Soedjarwo, setelah mereka menghabiskan kebersamaan dalam enam film sekaligus.
Apa pula komentarnya tentang film terbarunya Barbi3 dan keterlibatan Moviesta, perusahaan film yang baru dia kibarkan?
Apakah menulis memang sudah menjadi hobi Anda?
Sejak dari SMP kelas satu gue memang suka nulis. Gue hobi banget, gue adalah orang yang selalu ingin membuat sesuatu. Dan kenapa gue kuliah ambil jurusan Elektronika, karena memang lebih kepada ingin nyenengin orang tua. Biasalah kalo orang tua udah seneng baru bisa grasak grusuk.
Lalu kenapa bisa menjadi penulis skenario?
Di tahun 96-97 di luar lagi zamannya dengan internet, akhirnya gue sama anak-anak Indonesia disana bikin web site independent news. Isinya adalah berita-berita yang mungkin pada kangen dengan berita-berita Indonesia dan berinteraksi dengan Indonesia. Nah gue jadi pendiri sekaligus penulisnya.
Pas di situ tulisan gue dilihat sama salah satu produser Trans TV, dan dia kirim email ke gue, nawarin kerjaan di Trans TV sebagai creative writer. Akhirnya gue kerja di sana.
Tetapi bagaimana bisa Anda langsung mengerjakan sebuah cerita untuk film Andai Ia Tahu?
Karena ada kesempatan. Di Trans kan banyak creative writrer tuh, kemudian mereka nguji coba para writer-writer-nya untuk bikin 10 halaman skrip pertama film, dan rupanya yang mereka rasa paling cocok kebetulan gue. Ya udah jadi gue yang disuruh lanjutin sampe jadi naskah.
Apakah Anda tahu pattern apa yang harus dipenuhi untuk menulis sebuah skrip kala itu?
Nggak tahu, langsung beli di toko buku aja, beli buku menulis skenario. Buku itu gue baca dua malam, dan seminggu skrip itu sudah jadi.
Sebegitu mudahkah ?
Oh justru itu sangat sulit, karena harus bergadang-bergadang dan sampai harus ketiduran di bis di jalan menuju kantor.
Tapi apa kesulitan terbesarnya kala itu?
Memilih mana yang penting dan tidak penting untuk dihadirkan dalam tayangan selama 90 menit. Kalau struktur bisa diotak-atik, meskipun bukan sesuatu yang mudah. Tetapi memilih mana yang harus ditampilkan mana yang tidak itu jauh lebih sulit. .
Karena banyak penulis-penulis pemula yang menulis adegan-adegan yang sebenarnya nggak penting. Itu kesalahan yang kerap terjadi sama penulis pemula, dan itu juga terjadi dengan gue di awal karir.
Apakah Anda memiliki mentor?
Otodidak aja, tapi kalau memang harus ada mentornya, Sumarsono adalah orangnya. Dia produser di Trans TV dulu, dia banyak ngasih arahan tentang film yang baik seperti apa, seperti story telling-nya.
Nah nanti setelah itu harus gue sendiri yang mencerna, untuk bagaiman dijadiin bentuk skripnya dengan informasi yang gue dapat dari dia.
Anda terus berkembang dan menjadi sangat produktif ketika berhasil menulis 6 skenario dalam satu tahun?
Ha... ha... ha.... Ya itu sempat menulis sebanyak itu. Tapi sampai di titik ini gue masih mengatakan gue adalah penulis pemula, soalnya menurut gue dalam menulis skrip, semakin banyak kita tahu, dan ternyata makin banyak yang kita nggak tahu.
Seharusnya menurut gue, dalam menimba ilmu pun kita tidak boleh sampai titik dimana kita sudah merasa lengkap, karena gue percaya bahwa pepatah di atas langit masih ada langit. Gue percaya banget.
Apa sebenarnya yang mendorong Anda bisa menulis skenario film sebanyak itu, dan semuanya relatif sukses di pasar?
Waktu itu, gue lagi dalam proses pembelajaran. Tapi secara spesifik yang gue cari adalah jati diri gue sebagai penulis. Dalam arti gue sedang mencari genre apa yang menjadi kenyamanan gue dalam menulis.
Disitu gue kan benar-benar mencoba semuanya. Drama ada 9 Naga, Mendadak Dangdut juga ada, musikal ada Biarkan Bintang Menari, ada juga horor Pocong. Kenapa gue ada enam judul dalam satu tahun karena memang gue sedang mencari jati diri sebagai penulis.
Apakah itu benar-benar dorongan pribadi untuk mengatakan bahwa gue harus bisa berbagai genre ?
Kalau harus bisa berbagai genre iya, sebaiknya penulis memang harus bisa menulis berbagai genre. Tapi kan sebagai pribadi kita juga punya ego yang mengatakan bahwa kita sebenarnya nyaman untuk mengerjakan apa.
Akhirnya apa jawabannya, karena mengingat Mendadak Dangdut sukses, Pocong juga sukses, bahkan sampai-sampai dibredel tidak boleh tayang?
Ha... ha... ha.... Ngingetin gue aja lo, jadi bete gue. Kalo masalah sukses sih itu relatif ya, karena gue masih percaya kalau itu adalah faktor hoki. Karena kita lihat aja, ada film yang bagus tapi penontonnya sedikit, tapi ada film yang kurang bagus penontonnya banyak, gue masih percaya itu.
Dari berbagai genre itu gue banyak yang sukses, tapi gue menemukan jawaban kalau gue nyaman untuk komedi.
Kenapa komedi?
Adrenalinnya. Pencapaiannya ketika gue masuk ke bioskop, gue ngeliat orang-orang yang banyak ketawa, itu buat gue adalah achievement paling dahsyat. Mungkin begini. Lo tahu kan ada tipe-tipe orang yang waktu di sekolah dulu ada anak yang doyan banget bercerita yang selalu membuat temen-temenya tertawa dengan ceritanya. Mah gue adalah anak yang seperti itu.
Apakah berbeda dengan membuat orang takut dalam film horor misalnya?
Ketika orang menangkap apa yang menjadi maksud kita, itu pasti seneng. Tapi gue lebih suka membuat orang ketawa dari pada membuat orang takut. Karena kepuasannya beda.
Di film mana yang Anda sangat terpuaskan dengan komedinya?
Barbi3. Selama gue lihat dalam penayangannya, semua tertawa di titik-titik yang gue memang menghendaki mereka tertawa. Jadi artinya gue dengan penonton gue dalam film Barbi3 sudah mendapatkan kesepakatan kolektif bahwa titik yang menurut gue lucu juga disepakati oleh penonton.
Enama skenario Anda selalu bekerja sama dengan Rudy Soedjarwo, bagaimana awalnya?
Waktu itu Rudy datang ketika premiere Andai Ia Tahu. Dia bilang kalau dia suka dengan gaya penulisan gue dan mengajak untuk bisa bekerja sama kalau ada kesempatan suatu saat. Akhirnya terlaksana di tahun 2005 awal, film 9 Naga. Dan gue bisa mengatakan bahwa Rudy adalah guru gue sampai sekarang.
Apa yang dipelajari dari seorang Rudy?
Bagaimana membuat film yang utuh, yang komplit. Dalam arti secara gambar juga bicara, secara akting, secara pengadeganan dan secara rasa, emosi. Itu film yang komplit, jadi bisa menghadirkan rasa yang kita inginkan kepad penonton, bisa menyediakan visual yang cocok untuk kita, dan bisa mengadegankan peran pemain kita yang benar.
Dengan idealismenya sendiri?
Bahwa setiap film harus memiliki idealisme penulisnya iya, itu yang gue dapet dari Rudy. Tapi ternyata idealisme gue sama idealisme Rudy ternyata berbeda.
Akhirnya berbelok menjadi sutradara?
Gue sih sebenarnya masih tidak terlalu nyaman untuk menjadi seorang sutradara. Gue sekarang mungkin akan berubah profesi untuk menjadi DJ, serius ini serius. Mungkin ini tahun terakhir gue fokus di perfilman, tahun depan gue mau balik ke musik.
Tapi gue sudah mempersiapkan generasi sih, makanya ada Moviesta, astrada-astrada gue yang udah gue persiapin untuk jadi director. Ada beberapa penulis yang gue persiapin untuk menulis scenario. Jadi gue cuma supervisi. Tapi tahun depan rencananya gue mau mengurangi film.
Kenapa tidak nyaman menjadi sutradara?
Mungkin karena sutradara ada di titik puncak komando, kalau secara hierarki dia jenderal lapangan. Ternyata gue tidak nyaman untuk memerintah orang. Beneran, gue bukan tipe orang yang suka memerintah orang meskipun itu memang merupakan job desc dari sutradara.
Lalu kenapa waktu itu mau menjadi sutradara?
Balik lagi, karena gue cinta terhadap tulisan gue sendiri. Karena menjadi sutradara adalah salah satu fase di mana gue bisa mengawal tulisan gue sebelum itu menjadi sebuah bentuk film yang utuh.
Tapi tidak menutup kemungkinan anda suatu hari akan men-direct kembali?
Intinya selama directing masih fun buat gue, maka gue akan terus nge-direct. Tapi kalu directing udah nggak ada fun-nya gue akan berhenti nge-direct. Karena buat gue untuk mengerjakan sesuatu itu harus fun.
Tujuan akhir gue adalah menghibur orang, dan untuk menghibur itu nggak harus directing. Buat gue itu directing itu hanya sebuah kendaraan, karena gue juga bisa menjadi penulis untuk menghibur orang.
Lalu apakah pendirian Moviesta sendiri untuk menjalankan niatan itu?
Moviesta ini bukan perusahaan, tapi sebuah gerakan dari sekumpulan anak-anak muda yang cinta film dan mau melakukan apapun, belajar dari nol untuk membuat film.
Karena kita nggak punya akses untuk ke IKJ, kita ngga punya uang yang cukup untuk belajar film di luar negeri. Makanya kenapa di tempat ini ditulis This is the home of Moviesta Pictures Family, kata family ini adalah garis bawah sebenarnya. Ini bukan perusahaan, tapi kenapa menjadi perusahaan karena harus membayar pajak.
Tapi apa sebenarnya niatan awal dari pembentukan Moviesta ?
Sebetulnya ini mimpi gerakan yang gue mulai bersama Rudy di Reload Film Center, tapi kemudian dalam perjalanannya Rudy memiliki visinya sendiri dan gue juga punya visi sendiri dan akhirnya kita pisah di tengah jalan.
Apa yang menjadi perbedaan visi dengan Rudy?
Lebih kepada cara meng-handle SDM sih. Gue percaya anak-anak adalah tetap anak-anak, mereka harus dibiarkan berkembang dengan porsinya masing-masing. sedangkan kalau Rudy lebih ingin harus mengikuti industri juga. Karena visinya dia adalah kalau kita mau masuk ke film, kita sudah harus siap dengan industri.
Tetapi anak-anak ini kan masih ada yang berusia 18 tahun, 20 tahun, ya lo nggak bisa paksa mereka untuk ngikutin caranya pekerja professional, karena satu hal yang menjadi penekanan gue adalah bahwa kita berangkat dari cinta film.
Lalu posisi Anda di Moviesta?
Gue lebih nyaman disebut sebagai kakak, pembimbing, sahabat merekalah, tapi bukan pemimpin.
Jadi gue emang nggak pernah mau jadi pemimpin, gue masih mau have fun man. Kalau itu yang dinamakan egois ya udah berarti gue egois, tapi gue masih berasa mud ague belum siap dengan tanggung jawab pemimpin, gue masih mau have fun.
Program dari Moviesta sendiri ?
Kita menyediakan wadah untuk siapapun anak-anak muda yanga tidak punya akses ke pendidikan film untuk belajar dan membuat film. Sesingkat itu aja. Yah, mungkin versi Potlotnya (markas Slank, red) filmlah.


On Location: Macabre
Wawancara dengan David Poernomo
Menabur Ilmu, Menuai Generasi Baru
Trailer Pencarian Terakhir
10 Film Adaptasi Terbaik
Still Photo: Kawin Kontrak Lagi
Eksklusif: Still Photo "Doa Yang Mengancam"
Eksklusif! Still Photo "Laskar Pelangi"
Eksklusif! The House Bunny
Eksklusif: Trailer dan Still Photo "Hantu Aborsi"