Manifestasi Setan yang Beda Dari Monty Tiwa
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang paling sempurna dibanding dengan makhluk hidup lainnya yang ada di dunia. Manusia senantiasa diberikan akal budi untuk dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Ketika manusia berbuat kesalahan, tidak jarang orang mengkambinghitamkan keberadaan setan, yang dianggap mempengaruhi perilaku manusia untuk berbuat jahat.
Namun seperti apa yang telah ditulis di atas, manusia sendiri mempunyai kekuatan dan akal budi untuk membuat keputusan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Lalu sebenarnya manusia berbuat jahat, apakah itu perbuatan setan atau perbuatan manusia itu sendiri ?
Pertanyaan itulah yang melatarbelakangi penulis skenario dan sutradara Indonesia, Monty Tiwa, dalam sebuah film horror terbarunya berjudul Anak Setan. “Harapan saya, setelah orang menonton film ini, mereka akan berfikir ketika seseorang melakukan kejahatan itu atas kehendak siapa,” ungkap Monty. Ia mempertanyakan apakah kuasa setan yang bisa menguasai alam pikiran kita, atau memang kita yang menyerah pada bujuk rayu setan.
Dijelaskan lagi oleh pria yang mengawali debut karirnya sebagai sutradara dalam film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda ini, bahwa metafisis setan dalam film yang diusahakan akan rilis pada Juni 2008 ini adalah sebuah pribadi atau sifat atau karakter, yang manifestasinya adalah kejahatan atau angkara murka.
Pertanyaan tentang apakah kuasa setan yang menguasai pikiran kita atau kita yang menyerah pada bujuk rayunya direpresentasikan melalui sosok Stella (Indri Satiya). Di sekolah, Stella ingin belajar menjadi anak yang baik, tetapi ia justru harus berhadapan dengan guru bernama Bagyo (Alex Komang) yang amoral, genit, galak, dan cabul. Stella pun memiliki teman di sekolah bernama Lano (Gading Marten) yang ia anggap sebagai pria baik dan melindungi. Namun pemikiran Stella salah, ia hanya dijadikan sebagai obyek seks bagi Lano. Stella pun mempertanyakan, “Saya atau kalian yang anak setan !”.(ajo)

