Barbi3, Ketika Korban Jadi Subyek
Menjadi pelaku memang lebih nikmat daripada menjadi obyek penderita, dan baru ketika kita pernah menjadi obyeklah kita bisa merasakan penderitaan tersebut. Begitulah apa yang terjadi dengan Marion (diperankan Titi Kamal), Alya (Poppy Sovia) dan Aline (Francine Roosenda).
Ketiga cewek cantik nan seksi dan kaya ini terkenal dengan ulah mereka menjahili cowok-cowok culun di kampus. Sudah banyak yang menjadi korban dan yang terbaru adalah Stanley (Desta Club 80’s), mahasiswa baru nan culun dan kampung denga logat Jawa yang kental. “Cewek Bling-bling” ini, begitu julukan mereka, mengerjai Stanley ketika acara Campus Night di sebuah tempat hiburan malam. Sang eksekutor adalah Alya. Dia memaksa Stanley untuk memakai pakaian serba pink, lengkap denga celana dalam G-Stringnya. Kontan saja Stanley jadi bahan olok-olok di party tersebut.
Kejadian tersebut sempat membuat Stanley memutuskan untuk bunuh diri. Untunglah ada Helen (Cathy Sharon) yang menyelamatkannya. Helen merupakan salah satu mahasiswi yang membenci tingkah polah Cewek Bling-Bling. Ia juga kerap menjadi bahan cercaan ketiga cewek tersebut. Maklum, Helen bukan berasal dari keluarga kaya.
Sampai pada suatu hari yang naas, mobil mereka tertabrak bus kampus. Dari sinilah kesialan mereka bermula. Pada suatu malam, mereka bertiga bermimpi yang sama: dalam tiga puluh hari mereka harus menebus dosa terhadap orang terakhir yang mereka sakiti, yang itu berarti adalah Stanley.
Mudah ditebak, situasi menjadi terbalik seratus delapan puluh derajat, dari pelaku menjadi korban. Stanley mengambil kesempatan tersebut . Ia kembali mengerjai ketiga cewek tersebut. Tindakan Stanley ini tentu saja membuat berang Helen, karena baginya Stanley menjadi sama saja dengan Cewek Bling-Bling itu.
Bangun cerita yang digarap Monty Tiwa dengan timnya di Moviesta memang relatif mudah ditebak. Maklum, cerita tampaknya bukan jualan utama di sini, tapi lebih kepada kekonyolan dan tingkah polah para pemainnya. Karakter Marion dan Alya kerap kali mengundang tawa. Marion dengan bahasa dan tingkahnya yang khas, menyebalkan tapi sekaligus mengundang tawa. Atau Alya dengan pikiran-pikiran lugunya. Dua dari tiga Cewek Bling-Bling ini bisa dikata memang menjadi pusat tawa.
Walaupun penuh tawa, film produksi Starvision Plus ini tetap mengandung pesan moral. Melakukan tindak kekerasan psikis terhadap teman atau sesama, baik dilakukan secara sadar maupun tidak, akan selalu berbuah tidak baik, bahkan hasilnya bisa diluar perkiraan. Sesuatu yang tadinya dianggap sekadar bahan lelucon, bagi sang korban bisa jadi ditanggapi sebagai penghinaan tak terperi.
Di sisi lain, ketika sang korban mendapat peluang menjadi subyek, bisa jadi dia akan melakukan kesalahan yang sama, seperti Stanley yang balas dendam dengan “memperbudak” Cewek Bling-Bling, mulai dari mencuci motor hingga membersihkan sepatunya.
Penyampaian pesan moral dalam film ini juga tidak berkesan menggurui. Barbi3 pada akhirnya tetaplah merupakan suguhan renyah nan nikmat untuk ditonton, terlepas dari berbagai kekurangan yang terasa di sana-sini. (dans)

