Body of Lies: Betapa Telanjangnya Kita di Mata Mereka

Apa sih biasanya menjadi daya tarik yang menjual dari sebuah film? Ada banyak, tapi umumnya orang akan menyebut bintang atau sutradaranya sebagai jawaban utama. Maka, dalam poster sebuah film nama-nama itulah yang biasanya ditonjolkan oleh produser untuk memprovokasi calon penonton.

Nah, jika kedua faktor ini saja yang disebutkan, maka film Body of Lies sudah lulus ujian. Silakan masukkan ke dalam daftar teratas film yang kudu ditonton akhir pekan ini. Pasalnya, ada nama Leonardo DiCaprio dan Russell Crowe di sana, dua pemain watak yang bisa menjadi garansi bagi fans yang sudah kenal baik dengan film-filmnya. Kemudian ada Ridley Scott di kursi sutradara. Dua film yang pernah dibesutnya, yakni American Gangster dan Blck Hawk Down dipasang pada poster film ini. Seolah-olah menjadi pembanding, jika film laga ini tak akan kalah serunya.

Leonardo berperan sebagai Roger Ferrish, aparat intelijen amrik yang akan menangkap teroris di kawasan Timur Tengah. Dengan keahliannya menyamar, dia mencoba menyusup ke dalam jaringan institusi tersebut. Ternyata tidak mudah, masih ada veteran intelijen (Russell Crowe) yang turut mengacak-acak wilayah operasinya.

Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh kolumnis Washington Post David Ignatius dan diangkat ke skenario oleh William Monahan dengan menarik. Tentu saja, film bertema kegiatan spionase saja terdengar sungguh seksi. Apalagi ini kegiatannya menyangkut hubungan antarnegara. Teroris yang mengacau di negara sendiri saja menarik untuk disimak sepak terjangnya, apalagi yang sudah masuk jaringan internasional.

Di sini penonton diberikan gambaran yang jelas, seperti apa lingkup kerja aparat intel bule di jazirah Arab. Ada banyak hal penting yang patut dicatat. Pertama, sang intel harus bisa berbahasa Arab tentunya. Leonardo di sini diperlihatkan berdialog dalam bahasa setempat dengan fasihnya. Sebuah peran yang unik, jarang-jarang bintang top Hollywood mengucapkan Assalamualaikum misalnya. Dan tak hanya sampai di situ. Idiom-idiom garis keras macam Dar al-Harb (wilayah perang) dengan gamblang disebutkan.

Kedua, dia harus punya segudang keahlian mulai dari menggunakan senjata, piranti elektronik yang canggih dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya keahlian negosiasi. Ketika bersentuhan dengan obyek yang diincarnya, Ferrish harus bisa berpikir cepat agar bisa selamat. Bahkan jika sampai tertangkap, nyawapun menjadi barang yang murah harganya.

Ketiga, alat elektronik macam apa yang mendukung kinerjanya di lapangan termasuk untuk merekrut sel-sel baru. Gambaran tentang itu tentu saja bisa membuat kita terbelalak. Betapa piranti elektronik nan canggih milik negara adikuasa setiap hari mengawasi siapapun yang diincarnya. Asalkan masih berada di muka bumi, tak seorangpun bisa lepas dari intaian mata raksasa tersebut.

Sekali lagi, bukan hanya para bintang dan sutradaranya yang membuat film ini menarik, melainkan gambaran betapa telanjangnya sosok negara dunia ketiga di mata negara maju macam mereka. (bat)