Cinlok: Ketika Cinta Berawal dari Kebohongan

Menerima diri apa adanya. Sikap ini sungguh sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang lebih ingin terlihat lebih wah, lebih glamor dari yang seharusnya. Bahkan sampai berbagai cara, halal dan haram, dilakukan ke arah sana. Potret inilah yang terlihat pada sosok Cundra (diperankan Tora Sudiro) dan Nayla (Luna Maya) dalam film Cinlok.

Alkisah Cundra dan Nayla bertemu di stasiun tua. Cundra yang naksir pada pandangan pertama sengaja duduk di meja kedai yang sama dengan Nayla. Cundra mengaku seorang eksekutif muda dan Nayla dengan bangga menyebut dirinya manajer hotel. Mereka berdua sama-sama menunggu tunangannya masing-masing, yang satu bernama Tika (Ria Irawan), seorang desainer yang lagi naik daun, yang satu lagi Tyo (Tukul Arwana), seorang pengusah kelas kakap.

Kenyataanya, Tyo dan Tika tidak lebih dari wong deso yang sedang ingin mengadu nasib di kota.  Sementara Cundra hanyalah seorang sopir omprengan dan Nayla, terapis spa.

Kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan yang lain. Sandiwara baru harus digelar. Begitulah cerita terus bergulir hingga akhirnya Cundra dan Nayla merasa mereka harus kembali jujur pada diri sendiri, menerima diri apa adanya. Mudah ditebak bukan?

Cerita memang bukan kekuatan utama dari film yang ditulis oleh Titien Wattimena ini. Walaupun sebenarnya idenya cukup menarik, memotret masyarakat  kelas bawah, lengkap dengan drama kehidupannya. Lihat misalnya penggambaran Tika dan kawan-kawan yang baru datang dari kampung. Mereka terpaksa kabur dari penampungan karena ternyata pekerjaan mereka tidak seperti yang dijanjikan. Dan Cundra, yang diminta untuk mencari mereka, lengkap dengan bayarannya, berbalik memihak Tika dan kawan-kawan.

Yang lebih menonjol kemudian adalah kemampuan Tora Sudiro dan Tukul Arwana mengeksplorasi kemampuan mereka mengundang tawa penonton. Atau lihat pula Luna Maya yang dalam berbagai adegan cukup mampu memainkan mimik wajahnya dengan pas. Pun Ria Irawan, aktris senior yang terlihat tampil total.

Salah satu adegan yang sangat menarik adalah ketika Cundra dan Nayla berkenalan di kedai di stasiun kereta. Dialog di antara kedua terasa menggelitik dan mengalir sempurna. Bagaimana mereka membohongi diri sendiri dan merasa puas dengan kehobongan itu. Sayang, ke depannya, alur cerita mulai terasa kedodoran. Walaupun bisa tetap mengundang tawa.

Terlepas dari berbagai kelemahan yang ada, sebagai sebuah film komedi, Cinlok, yang awalnya diberi judul Stasiun, ini cukup mampu menghubungkan dirinya dengan masyarakat penontonya. Karena bisa jadi Cundra atau Nayla adalah kita sendiri. (dans)