Laskar Pelangi: Warna-Warni Penderitaan dan Perjuangan

Mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar bukanlah perkara mudah. Karena bagaimana pun keduanya merupakan media yang berbeda. Yang pertama lebih menekankan kekuatan pada untaian kata, sementara yang kedua lebih kepada bahasa visual. Belum lagi adanya tantangan akan batasan waktu tayang.

Dalam situasi demikian hadirnya Laskar Pelangi, yang merupakan karya adaptasi dengan judul yang sama karya novelis Andrea Hirata patut diacungi jempol. Keputusan tim penulis skenario yang digawangi Salman Aristo,  Mira Lesmana dan Riri Riza untuk memusatkan cerita pada tiga dari sepuluh tokoh Laskar Pelangi yaitu Ikal (diperankan Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) menjadi tepat adanya. Cerita menjadi lebih fokus dan padat.

Penguatan pada sosok-sosok yang lain seperti Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) menjadikan film ini terasa lebih hidup. Laskar Pelangi ada bukan karena diri mereka sendiri tapi karena ditopang juga oleh orang-orang lain di sekitarnya.

Apa yang membuat film ini sama dengan novelnya adalah muatan semangat dan kegigihan untuk keluar dari himpitan penderitaan. Kebobobrokan ruang kelas bukanlah alasan untuk tidak sekolah. Begitu pula jauhnya jarak yang harus ditempuh. Tidak pula goyah oleh godaan dari sekolah sebelah yang menawarkan fasilitas lebih. Seperti yang selalu ditekankan Pak Harfan (Ikranegara), sekolah bukan sekadar materi pelajaran, tapi juga pendidikan nilai-nilai moral dan etika.

Guliran waktu dua jam lebih untuk menonton film ini tuntas tak terasa. Penggambaran perjuangan mereka untuk mengatasi segala keterbatasan terkadang mengundang tawa, di lain waktu menguras air mata. Dua situasi ekstrim yang bisa dipadu dengan proporsi yang pas.

Penggambaran situasi dan keindahan alam Belitung yang digawangi sinematografer Yudi Sugandhi digarap dengan apik. Begitu pula dengan penggambaran adegan dialog para tokohnya. Walaupun, pada hemat saya, bila colouring film ini digarap lebih jauh akan lebih terasa mantab, roh tempat serta tokoh-tokohnya akan lebih kuat.

Kekuatan lain film ini terletak pada tokoh-tokohnya. Keputusan Mira Lesmana dan tim untuk menggunakan anak-anak asli Belitung menjadi Laskar Pelangi ternyata merupakan langkah yang tepat. Walaupun bagi mereka ini merupakan film perdana, tapi tidak terasa kagok dalam berakting. Bahkan untuk ketiga tokoh sentralnya, Ikal, Lintang dan Mahar, mereka tampil memukau. Penghargaan Piala Citra untuk satu di antara mereka mungkin bukan hal yang mustahil.

Begitu pula dengan aktris dan aktor yang telah karatan seperti Rieke Dyah Pitaloka, Cut Mini, Slamet Rahardjo dan Ikranegara. Mereka bisa memberi warna tersendiri, walaupun performa mereka tampak menjadi biasa-biasa saja di tengah-tengah Ikal dan kawan-kawan.

Pada titik tertentu, Laskar Pelangi, yang diputar serentak di lebih dari seratus layar bioskop, bisa dikata merupakan karya masterpiece dari duet Mira Lesmana-Riri Riza selama sepuluh tahun bergulat dalam dunia sinema. Dan juga menjadi salah satu tonggak pencapaian film nasional. (dans)