The Shaman : Cerita Horor Berbalut Thriller

Setelah penantiannya selama satu tahun, akhirnya Divisi Terbaru Indika Entertainment berhasil merilis film pertama mereka, The Shaman. Film yang sebenarnya dijadwalkan rilis pada bulan Agustus lalu ini harus rela bersabar lantaran tertahan di proses pasca produksi. “Proses produksinya sih sudah dijalanin dari tahun kemarin, tapi karena jadwal editing membuat film ini tertahan lebih lama,” ujar Ayu Anggreni selaku Marketing & Promotion Manager Divisi Terbaru Indika.

Bicara tentang Divisi terbaru dari Indika ini memang menarik. Pasalnya, selama ini Indika seperti tidak ada masalah dengan produksi-produksi horornya di bawah produser spesialis horor, Shankar BSC. Lalu apa yang berbeda dengan divisi baru Indika ini ? Ayu menyebutkan, divisi baru ini memiliki konsep yang berbeda dengan yang biasa dihadirkan oleh Shankar. “Divisi dua ini memiliki konsepnya sendiri, tapi tetap dengan menghadirkan sebuah tayangan yang menghibur,” ungkap Ayu.

Memiliki konsep sendiri? Tampaknya memang iya, pasalnya film The Shaman yang juga mengambil genre horor coba memberikan sebuah cerita dan konsep berbeda dengan yang biasa disajikan oleh Shankar. The Shaman coba memadukan dunia mistis pulau Kalimantan dengan cerita thriller berlatar penjualan organ tubuh manusia.

Dan di sinilah yang membuat The Shaman menarik untuk disaksikan, pasalnya film yang dibintangi oleh Oka Antara, Farah Debby, Vicky Nitinegoro, Piet Pagau, Kemal Vivaveni, serta Kamidia Radisti ini memiliki cerita yang kuat. Rahasia dan kemisteriusan bisnis illegal penjualan organ tubuh manusia ini secara baik disimpan hingga pada akhirnya dibuka secara bertahap dengan ritme yang baik.

Namun hal ini membuat kesan horor yang hadir dari awal film jadi membias. Pasalnya, Raditya Sidharta selaku sutradara dan pemilik cerita sangat asik bermain dengan suasana thrillernya sepanjang film. Apalagi thriller yang coba dimainkan oleh Raditya ini harus mendapatkan guntingan sensor dari LSF. Guntingan ini pasti berpengaruh pada keutuhan cerita, jadi wajar saja jika maksud, tujuan, serta kelebihan film ini harus berkurang.

Selebihnya, usaha-usaha ”beda” yang coba disajikan di film ini patut diapresiasi. Seperti tone (warna) yang tidak biru seperti horor kebanyakan, serta usaha untuk menghadirkan suasana mistis dari Pulau Kalimantan pun bisa dikatakan. Hal ini bisa dilihat dengan usaha dari Raditya untuk tidak membangun set selama syuting di Kalimantan, sehingga apa yang ada disana, itulah yang dipakai. 

The Shaman sendiri berkisah tentang seorang dokter muda bernama Ryan (Oka Antara) yang mendapat penempatan tugas pertamanya di desa Sungai Duri di pedalaman Kalimantan yang merupakan kampung halaman ayahnya. Semangatnya yang menggebu – gebu menjalani tugas harus sirna harus berubah menjadi petualangan untuk mengungkap misteri yang menjadi rahasia desa tersebut selama bertahun-tahun.

Penampakan seorang gadis dengan wajah penuh luka, orang – orang dengan luka di perut seperti bekas operasi hingga hilangnya beberapa penduduk secara misterius membuat Ryan makin tersudut. Ditambah lagi dengan sikap penolakan beberapa tokoh terkemuka di desa tersebut akan kehadiran Ryan.

Ryan lantas dikunjungi 2 sahabatnya, Deny (Kemal Vivaveni) dan Hasan (Vicky Notonegoro). Menjalani hari demi hari di desa tersebut, ketiganya dibantu oleh Lila (Farah Debby), anak kepala desa setempat, secara tidak sengaja menemukan beberapa kejanggalan dan akhirnya mereka berempat mencoba mengungkap apa yang terjadi di balik semuanya.(ajo)