Ajang seperti lomba pemilihan model memang jembatan emas menuju ketenaran. Namun jika tidak diringi usaha tentu saja jembatan itu hanya sekadar impian. Macam yang dilakukan pesohor Raffi Ahmad misalnya. Setelah menang lomba model di sebuah majalah remaja, dia rajin datang ke rumah produksi. Sebuah usaha bukan?
”Gue datang ke Multivision itu bukan buat casting,” demikian pengakuan pemuda kelahiran Bandung ini tentang awal karirnya. Saat itu Raffi mengantar famili ke rumah produksi milik klan Punjabi di ruko kawasan Roxy Mas, Jakarta Pusat. Tiba di sana, masih sedang asik duduk-duduk di teras gedung, kemudian datang seseorang menghampirinya seraya berkata, ”Hey kamu. Masuk, masuk... mau main sinetron nggak?” kenang Raffi di tahun 2002 itu. Orang itu belakangan diketahui bernama Nayato Fionuala. Masuklah Raffi untuk sebuah proses audisi. Hasilnya dia langsung diajak syuting sinetron Tunjuk Satu Bintang di kawasan Bogor. ”Hoki deh gue,” selorohnya sambil tertawa.
Sinetron perdana itu menjadi pembuka jalan sang aktor muda untuk berakting di layar beling. Judul macam Senandung Masa Puber, hingga Olivia sempat dilakoninya. Namun tetap Nayato yang kemudian menjadi kuncen untuk alumni SMU 3 Jakarta ini di layar lebar. ”Setelah tawaran sinetron itu Nayato menghilang entah kemana. Setahun kemudian dia menelepon dan menawarkan: ‘Eh mau main film ngga?’ Saya jawab, mau,” jawab Raffi ketika itu.
Maka jadilah sebuah film horor dengan bumbu komedi Ada Hantu di Sekolah menjadi debut anak sulung dari tiga bersaudara ini. Di sana Nayato menggunakan nama Koya Pagayo. ”Gua berterimakasih kepada Nayato dan Arie Aziz. Nah, Arie Aziz itu masih astradanya Nayato. Gua sama Arie Aziz, sama Nayato, kerjasamanya, alhamdulillah, masih baik,” terang Raffi. Bersama kedua sineas spesialis film horor itu Raffi memiliki proyek film hingga saat ini.
Perihal gonjang-ganjing yang menimpa Nayato, Raffi bersikap tidak mau ambil pusing.”Setiap orang bebas mengemukakan pendapat. Kalau saya untuk menanggapi masalah itu bingung,” komentar Raffi. Namun dia sepakat jika Nayato adalah sosok yang bisa bekerja dalam tempo cepat. ”Saya akui dia sutradara yang punya warna dan ciri khas sendiri,” tambahnya lagi.
Adalah Nayato pula yang kemudian kembali mengajak Raffi untuk beraksi di layar lebar. Kembali di bawah bendera Starvision, Nayato yang menggunakan nama Pingkan Utari, mengajak Raffi bermain dalam Me Vs High Heels. Ini merupakan sebuah film drama remaja dengan bumbu komedi. Setelah itu, Panggil Namaku 3X menjadi film Raffi berikutnya yang kali ini dibiayai oleh Indika Pictures. Keduanya dirilis pada tahun yang sama, yakni 2005.
Popularitas Raffi tetap di atas angin kendati sempat absen di layar lebar sepanjang 2006. Namun, di awal 2007 tanda-tanda kemunculannya mulai tampak. Musisi Melly mengajaknya bergabung dalam sebuah proyek film bertajuk Bukan Bintang Biasa. Bersama bintang-bintang muda lainnya macam Laudya Cynthia Bella, Ayushita, Chelsea Olivia serta Dimas Beck mereka sempat melemparkan hits Let’s Dance Together yang kental dengan aroma disko. Konon, singel ini direspon baik di pasaran.
Hingga film Bukan Bintang Biasa, Raffi tak pernah merasakan akting yang berat. ”Kebetulan waktu dapat di filmnya Nayato, gua jarang dapat adegan yang serius. Lebih banyak yang komedi, dan Nayato juga orangnya bercandaan,” papar Raffi membandingkan. Pun dengan film arahan Lasja Fauzia dimana dia bermain dengan datar.
Barulah dalam film arahan Hanny R Saputra, Love is Cinta Raffi tampak bermain lebih maksimal. ”Berat. Karena gua di situ adegannya nangis-nangis, jadi cowok melankolis,” tutur Raffi. Bermain bersama Acha Septriasa yang bermain bagus dalam film itu, Raffi merasa terbantu hingga bisa berakting menjadi cowok yang harus meraung-raung untuk meyakinkan pujaan hatinya.
Raffi agaknya sadar jika berkecimpung di dunia hiburan bintangnya cepat pudar. Maka mumpung masih berpendar diapun memanfaatkan setiap peluang yang datang, termasuk ketika ada panggilan dari sutradara Rudi Soedjarwo di awal tahun 2008. ”Gua datang. Alhamdulillah besoknya udah dipanggil syuting,” terang Raffi sembari tergelak. Sebuah peran dalam film horor bertajuk 40 Hari Bangkitnya Pocong segera digenggamnya.
Tak hanya sampai di situ, Rudi kembali mengajaknya dalam sebuah proyek film berikut. Kali ini film drama yang aroma maskulinnya terasa kental. ”Ini film yang laki-laki banget,” komentarnya. Dalam film bertajuk Liar ini Raffi bukan hanya menjadi pembalap motor yang berlomba di lintasan sirkuit Sentul, dia juga berkali-kali melakukan adegan perkelahian dengan aktor lain. Bahkan, lawan mainnya aktor Irgi Ahmad Fahrezi dibuatnya berdarah-darah lantaran kena bogem mentah dalam salah satu adegan.
Ke depan Raffi masih belum punya target tertentu di dunia hiburan. ”Ya udah deh, gua jalanin aja syuting-syuting. Kalau impian sih kepinginnya jadi pemain, sutradara, produser, penulis. Hahahaha... Maruk ngga gua?” ujarnya tertawa ngakak. (bat)