Monty, Tersebab Ingin Menghibur

Monty Tiwa

Monty Tiwa bisa dikata filmmaker multi talenta. Dari seorang penulis skenario, dia kemudian meloncat menjadi sutradara. Ia juga akhirnya membentuk komunitas filmmaker dengan bendera Moviesta. Selain itu, Monty juga menekuni dunia musik. Rekam jejaknya bisa terlihat lewat lagu Jablay yang dinyanyikan Titi Kamal dalam film Mendadak Dangdut, misalnya.

Melongok ke belakang, dunia tulis-menulis ternyata telah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. “Menulis buat gue udah hobi banget. Menulis adalah hal yang selalu akan gue lakukan ketika gue ngga tau mau ngapain,” ujar lulusan sekolah Ora Et Labora ini. 

Tulisan-tulisan awal pria kelahiran Jakarta, 28 Agustus 1976 ini pada awalnya adalah cerita-cerita lucu, sarat komedi. Ketika kuliah diUniversitas Kansas, bersama teman-temannya ia membuat website yang isinya berita-berita tentang Indonesia. “Tahun 96-97 kan internet lagi booming tuh di Amerika, jadi kita bikin website yang isinya tentang berita-berita Indonesia. Nah, di situ gue jadi pendiri sekaligus yang ngisi tulisannya,” cerita Monty.

Dari sinilah perjalanan karir Monty sebagai penulis dimulai. Suatu ketika, tulisannya dibaca seorang produser di salah satu televisi swasta Indonesia. Karena dinilai tulisannya memiliki kreatifitas yang tinggi, Monty ditawari kembali ke Indonesia dan diberi jabatan Creative Writer di televisi swasta tersebut.

Jalan karir Monty memang sudah diarahkan ke layar lebar tampaknya. Karena proyek pertama yang dikerjakan oleh Monty adalah sebuah cerita layar lebar berjudul Andai Ia Tahu di tahun 2002. Meskipun diakui Monty ia tidak memiliki pengetahuan dan keahlian untuk menulis skenario layar lebar kala itu.

“Gue ngerasa ada kesempatan buat gue. Di Trans kan banyak creative writer, tapi mereka nguji para writer untuk membuat sepuluh halaman skrip pertama, dan rupanya yang mereka rasa cocok adalah gue,” jelas Monty.

Namun yang namanya baru menulis skenario layar lebar untuk pertama kalinya, Monty memang menemukan beberapa hambatan. Yang terbesarnya adalah, ketika ia harus memilah-milah mana yang penting atau tidak penting untuk dimasukkan ke dalam sajian film berdurasi 90 menit. “Banyak penulis yang berangkat dari penulis novel, termasuk gue. Tapi ternyata banyak hal yang bisa kita lakukan di novel ternyata tidak bisa kita kerjakan di skrip,” jelas Monty.

Seiring berjalannya waktu, semua itu pun berlalu. Satu demi satu skenario film kembali dibuatnya untuk kembali diproduksi ke layar lebar. Tercatat di tahun 2003 dan 2005 Monty mengerjakan dua skenario, Biarkan Bintang Menari dan Vina Bilang Cinta. “Gue sih otodidak aja, tapi memang awalnya sangat sulit. Gue sampe harus ketiduran di perjalanan gue ke kantor, karena gue kerja dari pagi ketemu pagi,” tukas Monty.

Setelah menulis Vina Bilang Cinta, perjalanan karir Monty terus berlanjut. Kali ini ia memilih bergabung dengan sutradara Rudi Soedjarwo. Ceritanya berawal ketika Rudi datang ke acara premiere film Andai Ia Tahu di tahun 2002. Ketika itu, Rudi yang masih bersama dengan Rako Prijanto sebagai penulis skenarionya melihat karya Monty yang terbilang menarik perhatian. “Dia bilang dia suka sama gaya penulisan gue dan ngajak kerja sama suatu saat,” cerita Monty.

Kerja sama antar keduanya baru bisa terwujud ketika di tahun 2005 lewat film 9 Naga. Kerja samanya dengan Rudi kala itu dinilai menghasilkan banyak karya yang baik. Terhitung beberapa film hasil kolaborasi mereka berdua suskes di pasaran. Lihat saja seperi Mendadak Dangdut, Pocong ataupun Mengejar Mas-Mas.

Satu hal yang menarik, setahun bersama Rudi, Monty berhasil menggarap enam skenario yang difilmkan. “Waktu itu, gue lagi dalam proses pembelajaran. Tapi secara spesifik yang gue cari adalah jati diri gue sebagai penulis. Dalam arti gue sedang mencari genre apa yang menjadi kenyamanan gue dalam menulis,” jelas Monty.

Di tengah-tengah pencarian jati dirinya ini, Monty juga berkeinginan untuk dapat mengawal tulisannya untuk diterima dengan baik oleh penonton. Dan jawabannya adalah menjadi seorang sutradara. “Hal itu lantaran keinginan dari gue untuk mengawal tulisan gue menjadi sesuatu yang memang gue harapkan, seperti layaknya gue mengawal anak gue masuk ke sekolah dan lulus."

Alhasil, genre komedilah yang ternyata berhasil menggugah hati Monty. Baginya, ketika membuat penonton tertawa merupakan sebuah achievement yang paling tinggi yang dirasakan olehnya. Dan benar saja, setelah perjalanan kerja samanya dengan Rudi harus terpisah di tengah jalan lantaran perbedaan prinsip, Monty terus berkarya dengan film-film bergenre komedi seperti Otomatis Romantis, XL, dan yang terbaru adalah Barbi3.

 
Saat ini, Monty memang telah berdiri sendiri dengan pondasi Moviesta sebagai tempatnya untuk berkarya dan berbagi ilmu. Dengan apa yang selama ini telah ditempuhnya, menjadikan Monty lebih dewasa. Termasuk dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang sedang marak di dunia perfilman.
 
Baginya perbedaan yang sedang marak terjadi di dunia perfilman saat ini tidak lain dan tidak bukan demi kebaikan dunia perfilman itu sendiri. “Tujuan gue berkarya adalah untuk menghibur orang, dan saat ini gue telah berprinsip gue akan melewati perbedaan-perbedaan yang ada. Karena gue yakin, tujuan orang-orang adalah untuk terhibur,” jelas Monty. (ajo)

Data Pribadi:

Nama                           : Monty Tiwa
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 28 Agustus 1976
Nama Ayah                 : Alm.MDJ Tiwa
Ibu                               : Ligia Seba

Filmografi:

Penulis Skenario

Andai Ia Tahu
Vina Bilang Cinta
Biarkan Bintang Menari
9 Naga
Juli di Bulan Juni
Ujang Pantry 1 dan 2
Mendadak Dangdut
Denias
Pocong 1, 2 dan 3
Dunia Mereka
Mengejar Mas Mas
Otomatis Romantis

Sutradara dan Penulis Skenario

Maaf Saya Menghamili Istri Anda
Pocong 3
XL (Extra Large) Antara Aku Kau Dan Mak Erot

Penghargaan

Skenario Terbaik (Film Cerita Lepas) Piala Vidia FFI 2005 untuk Juli di Bulan Juni
Penata Sunting Terbaik Piala Vidia FFI 2006 untuk Ujang Pantry 2
Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik Piala Citra di FFI 2006 untuk Denias, Senandung di Atas Awan

Manifestasi Setan yang Beda Dari Monty Tiwa

Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang paling sempurna dibanding dengan makhluk hidup lainnya yang ada di dunia. Manusia senantiasa diberikan akal budi untuk dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Ketika manusia berbuat kesalahan, tidak jarang orang mengkambinghitamkan keberadaa ... [more]